Akhlak Dalam Pendidikan Islam
- account_circle M.Fadhlan Adithiyariski
- calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
- visibility 48
- comment 0 komentar

gambar dari: yayasansyekhalijaber.com
Oleh: M.Fadhlan Adithiyariski
Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI
Manajemen Bisnis Syariah
Abstrak
Akhlak merupakan inti dari pendidikan Islam yang berfungsi membentuk karakter dan kepribadian peserta didik agar menjadi manusia beriman, beradab, dan berperilaku mulia. Pendidikan Islam menekankan integrasi antara pengetahuan, pengamalan, dan pembentukan karakter melalui keteladanan, pembiasaan, serta penguatan spiritual. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep akhlak dalam pendidikan Islam, urgensinya, implementasinya dalam proses pembelajaran, serta tantangan di era modern. Metode yang digunakan adalah studi pustaka terhadap jurnal dan literatur ilmiah terbitan tahun 2020–2025. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa akhlak tidak hanya menjadi tujuan, tetapi juga menjadi pendekatan dan metode utama dalam pendidikan Islam. Meski demikian, berbagai tantangan seperti pengaruh media digital, degradasi moral, dan krisis keteladanan memerlukan strategi pendidikan akhlak yang lebih relevan dan adaptif. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mengintegrasikan nilai-nilai akhlak dalam seluruh aspek pembelajaran agar tercipta generasi berkarakter mulia.
Kata Kunci : Akhlak, Pendidikan Islam, dan Pembentukan Kepribadian
Pendahuluan
Akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu bentuk jamak dari kata “khuluqun” yang berarti budi pekerti, perangai, tabiat, serta tingkah laku seseorang. Secara istilah, akhlak adalah cabang ilmu yang membahas nilai baik dan buruk (benar-salah) perbuatan manusia, mengatur tata cara pergaulan antarmanusia, serta menetapkan arah dan tujuan akhir dari segala usaha dan amal perbuatan. Akhlak pada hakikatnya merupakan sifat yang telah menyatu dan membudaya dalam jiwa seseorang sehingga tercermin secara spontan dalam perilakunya. Apabila sifat yang melekat itu buruk dan tercela, maka disebut akhlak mazmumah (akhlak tercela); sebaliknya, jika sifat yang membudaya itu baik dan terpuji, maka disebut akhlak mahmudah (akhlak mulia).
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan setiap manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, karena melalui pendidikanlah manusia dikembangkan menjadi pribadi yang berilmu pengetahuan, mampu menggali dan mengoptimalkan seluruh potensi fitrahnya, sekaligus memiliki akhlak mulia yang teguh berlandaskan syariat Islam; sedangkan ilmu akhlak sendiri mengkaji segala perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar, disengaja, dan dengan penuh pengetahuan tentang konsekuensi perbuatannya, termasuk pula perbuatan yang pada dasarnya tidak dikehendaki tetapi masih dapat dicegah atau dijaga melalui ikhtiar dan kesadaran penuh, sehingga manusia tetap bertanggung jawab penuh atas pembentukan budi pekerti yang luhur.
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna (kāmil wa mutakāmil). Kesempurnaan ini tercermin dari fakta bahwa setiap ajaran yang dibawanya senantiasa memiliki landasan pemikiran yang kokoh, logis, dan sesuai dengan fitrah manusia. Tidak ada satu pun perintah atau larangan dalam Islam yang bersifat arbitrer atau tanpa hikmah. Begitu pula dalam ranah pendidikan akhlak (tarbiyah al-akhlāq), Islam tidak membiarkan pembentukan budi pekerti yang luhur diserahkan kepada kebiasaan semata atau filsafat manusia yang relatif, melainkan meletakkannya di atas dua fondasi utama yang mutlak kebenarannya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Pendidikan Islam memiliki tujuan utama membentuk pribadi muslim yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Pentingnya akhlak ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini menegaskan bahwa akhlak merupakan pilar utama dalam pendidikan Islam dan menjadi standar keberhasilan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan modern, guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak peserta didik. Fenomena degradasi moral, perilaku menyimpang, kekerasan remaja, dan penyalahgunaan teknologi menjadi tantangan besar dunia pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu memperkuat pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam pembelajaran, lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Sumber data berasal dari jurnal-jurnal ilmiah, buku, dan artikel akademik yang membahas pendidikan Islam dan akhlak, khususnya publikasi rentang 2020–2025. Data dianalisis melalui teknik content analysis untuk mengidentifikasi konsep, implementasi, serta tantangan pendidikan akhlak dalam dunia pendidikan Islam modern.
Pembahasan
1. Konsep Akhlak dalam Pendidikan Islam
Akhlak mulia pada hakikatnya merupakan inti dan esensi ajaran agama, sekaligus buah matang dari ketakwaan yang mendalam serta hasil latihan jiwa yang konsisten bagi orang-orang yang sungguh-sungguh dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebaliknya, akhlak buruk bagaikan racun mematikan yang secara perlahan namun pasti menghancurkan kehidupan manusia, menjauhkan dirinya dari rahmat dan keridhaan Allah, serta menyeret pelakunya ke dalam belenggu dan jerat syaitan yang terkutuk.
Akhlak memiliki tujuan ganda yang mulia, yaitu mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia sekaligus meraih keberuntungan serta keselamatan abadi di akhirat. Akhlak dalam pendidikan Islam merupakan proses pembentukan karakter (takhalluq) dan penanaman sifat-sifat mulia yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhlak bukan sekadar pengetahuan tentang baik-buruk, melainkan perwujudan nyata dari iman yang telah meresap ke dalam jiwa hingga menjadi tabiat tetap. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin mendefinisikannya secara sangat tepat:
الْخُلُقُ هُوَ هَيْئَةٌ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٌ عَنْهَا تَصْدُرُ الْأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ
“Akhlak adalah sifat yang tertanam kuat dalam jiwa, darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan panjang.”
Dalam konteks pendidikan Islam, pembentukan akhlak tidak cukup hanya dengan transfer pengetahuan (teori), tetapi harus melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, yaitu:
- Keteladanan (Uswah wa Qu dwah)
Rasulullah bersabda: “Pendidik yang paling utama bagi kalian adalah aku” (HR. Bukhari). Anak-anak dan peserta didik lebih banyak meniru apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Guru, orang tua, dan lingkungan harus menjadi cermin akhlak yang hidup.
- Pembiasaan (Tarbiyah bi al-‘Adah)
Akhlak mulia tidak lahir secara spontan, melainkan melalui pengulangan amal saleh hingga menjadi kebiasaan. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an setiap hari, berbakti kepada orang tua, berkata jujur, dan segala amal kecil yang diulang-ulang akan membentuk karakter yang kokoh.
- Penguatan Kepribadian (Taqwiyah asy-Syakhshiyyah)
Melalui nasihat (mau’izhah hasanah), peringatan lembut (tazkirah), hukuman mendidik (ta’zir tarbawiy), serta pujian dan penghargaan (tardhiyah), jiwa peserta didik diperkuat untuk mencintai kebaikan dan membenci kemungkaran.
- Pengembangan Kecerdasan Spiritual (SQ)
Pendidikan akhlak Islam tidak hanya melatih aspek emosional (EQ) atau intelektual (IQ), tetapi terutama kecerdasan spiritual melalui dzikir, tafakur, muhasabah, taubat, dan riyadhah (latihan jiwa). Dengan SQ yang kuat, seseorang mampu melihat setiap perbuatan dari perspektif akhirat sehingga akhlaknya terjaga meskipun tidak ada pengawas manusia.
2. Tujuan Pendidikan Akhlak dalam Islam
Pendidikan akhlak dalam Islam memiliki tujuan yang sangat jelas dan terukur, yang pada hakikatnya merupakan penjabaran dari misi kenabian itu sendiri. Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
- Membentuk karakter mulia (takhalluq bi akhlāqillāh)
Tujuan utama adalah menjadikan akhlak mulia sebagai “pakaian jiwa” yang melekat pada diri peserta didik. Karakter mulia ini mencakup sifat-sifat seperti jujur, amanah, sabar, lemah lembut, pemaaf, rendah hati, dan ihsan. Rasulullah bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
- Menanamkan kebiasaan berperilaku baik sesuai nilai-nilai Islam (ta’wīd ‘ala al-khair)
Akhlak yang baik tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Mulai dari bangun tidur dengan membaca doa, mengucap salam, menundukkan pandangan, menjaga lisan, hingga tidur kembali dengan adab yang diajarkan Rasulullah. Pembiasaan ini dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sejak usia dini agar menjadi tabiat yang sulit diubah.
- Membangun kesadaran spiritual dan moral yang tinggi
Peserta didik diajarkan bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Allah (muraqabatullah), dicatat oleh malaikat, dan akan diperhitungkan di hari kiamat. Kesadaran ini diperkuat melalui pengamalan dzikir, muhasabah harian, tafakur atas ayat-ayat kauniyah, serta pembinaan rasa malu (haya’) dan takwa. Dengan demikian, akhlak tidak hanya lahir karena tekanan sosial, tetapi karena hubungan vertikal yang kuat dengan Allah.
- Menghindarkan peserta didik dari perilaku menyimpang dan tercela
Pendidikan akhlak berfungsi sebagai “benteng preventif” terhadap berbagai penyakit hati dan perilaku buruk seperti dusta, ghibah, riya’, hasad, sombong, zina mata dan hati, serta kemaksiatan lainnya. Pencegahan dilakukan melalui:
a. pengenalan sifat-sifat mazmumah beserta akibat buruknya,
b. penguatan iman dan tawakal,
c. pengawasan yang penuh kasih sayang,
d. dan pembinaan lingkungan yang kondusif.
- Mempersiapkan generasi yang beradab, bertanggung jawab, dan membawa rahmat bagi semesta
Generasi yang dihasilkan bukan hanya baik secara pribadi, tetapi juga menjadi rahmat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan alam semesta. Mereka memiliki adab yang tinggi dalam bergaul, bertanggung jawab atas amanah, menjaga lingkungan, serta siap menjadi pemimpin yang adil dan penyayang.
Dengan demikian, pendidikan akhlak bukan pelajaran tambahan atau mata pelajaran sampingan, melainkan inti dan tujuan hakiki dari seluruh sistem pendidikan Islam. Tanpa akhlak mulia, ilmu pengetahuan bisa menjadi bumerang, jabatan menjadi alat kezaliman, dan kekayaan menjadi sumber kehancuran. Sebaliknya, dengan akhlak mulia, sedikit ilmu pun akan membawa berkah, dan kehidupan akan menjadi sumber rahmat bagi semua makhluk.
3. Nilai-Nilai Akhlak dalam Pendidikan Islam
Adapun nilai-nilai akhlak dalam pendidikan yaitu:
a. Akhlak Terhadap Allah Swt.
Akhlak mulia kepada Allah Swt. adalah sikap hati, ucapan, dan perbuatan yang terpuji yang ditujukan langsung kepada-Nya, baik berupa ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an, berdzikir, maupun berupa amal-amal lainnya yang mencerminkan kesadaran akan kehadiran dan pengawasan Allah, seperti ikhlas, tawakal, rasa takut dan harap kepada-Nya, serta bersyukur atas segala nikmat.
Allah Swt. telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia melalui perintah dan larangan yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hukum-hukum syariat tersebut pada hakikatnya bertujuan untuk mewujudkan ketertiban, kebaikan, dan kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat. Di balik setiap kewajiban dan larangan itu terkandung nilai-nilai akhlak yang agung terhadap Allah, seperti ketundukan total (ubudiyah), cinta kepada-Nya melebihi segalanya, kepatuhan tanpa syarat, rasa malu bila melanggar perintah-Nya, serta penghambaan diri yang sempurna. Dengan demikian, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah bukan hanya masalah legal-formal, melainkan wujud nyata akhlak mulia seorang hamba kepada Rabbnya.
Berikut ini beberapa akhlak terhadap Allah Swt :
- Iman, yaitu keyakinan yang mantap terhadap wujud dan keesaan Allah Swt. serta pembenaran penuh terhadap segala yang Dia firmankan, meliputi iman kepada malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, hari kiamat, serta qadha dan qadhar-Nya. Iman merupakan fondasi pokok dan akar dari seluruh bangunan akhlak Islam.
- Taat, yaitu kepatuhan total terhadap segala perintah-Nya dan penjagaan diri dari segala larangan-Nya. Sikap taat ini merupakan buah langsung dan cerminan nyata dari keberadaan iman di dalam hati.
- Ikhlas adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan kepasrahan, tanpa mengharapkan pujian, balasan, atau imbalan dari seorang pun makhluk, melainkan semata-mata mengharapkan ridha dan pahala dari Allah Swt. semata. Dengan kata lain, ikhlas bukan berarti “tanpa pamrih” sama sekali, tetapi pamrihnya bersifat murni dan lurus: hanya mengharapkan wajah Allah serta ganjaran-Nya di akhirat kelak.
- Khusyuk adalah keadaan di mana hati, pikiran, dan perasaan sepenuhnya hadir serta terpusat pada ibadah atau amal yang sedang dikerjakan, sehingga tercipta konsentrasi total dan kesungguhan penuh dalam melaksanakan perintah Allah. Khusyuk menghadirkan ketenangan jiwa yang mendalam, kedamaian hati, serta rasa dekat dengan Allah bagi orang yang mengamalkannya.
- Huznudz dzan, yaitu berbaik sangka kepada Allah. Apa saja yang diberikan-Nya merupakan pilihan yang terbaik untuk manusia. Berprasangka baik kepada Allah merupakan gambaran harapan dan kedekatan seseorang kepada-Nya, sehingga apa saja yan diterimanya dipandang sebagai suatu yang terbaik bagi dirinya. Oleh karena itu, seorang yang huznuzan tidak akan mengalami perasaan kecewa atau putus asa yang berlebihan.
- Tawakal, yaitu menyerahkan sepenuhnya urusan dan hasil akhir kepada Allah setelah berusaha seoptimal mungkin dalam merencanakan dan melaksanakan suatu ikhtiar. Sikap tawakal merupakan perwujudan nyata dari kesabaran sejati sekaligus cerminan dari kesungguhan dan kerja keras seorang hamba, karena ia tidak bermalas-malasan dengan dalih “sudah tawakal”, melainkan tetap berikhtiar maksimal sambil meyakini bahwa hanya Allah-lah yang menentukan hasil terbaik.
- Syukur, yaitu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan-Nya.Ungkapan syukur dilakukan dengan kata-kata dan perilaku. Ungkapan dalam bentuk kata-kata adalah mengucapkan hamdalah setiap saat, sedangkan bersyukur dengan perilaku dilakukan dengan cara menggunakan nikmat Allah sesuai dengan semestinya.
- Sabar, yaitu ketahanan mental dalam menghadapi kenyataan yang menimpa diri kita. Ahli sabar tidak akan mengenal putus asa dalam menjalankan ibadah kepada Allah .Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Oleh karena itu, perintah bersabar bukan perintah berdiam diri, tetapi perintah untuk terus berbuat tanpa berputus asa.
- Bertasbih, yaitu mensucikan Allah dengan ucapan, yaitu dengan memperbanyak mengucapkan subhanallah ( maha suci Allah ) serta menjauhkan perilaku yang dapat mengotori nama Allah Yang Maha Suci.
- Istighfar, yaitu meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yan perna dibuat dengan mengucapkan “ astagfirullahal ‘adzim ’’ (aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung ). Sedangkan istighfar melalui perbuatan dilakukan dengan cara tidak mengulangi dosa atau kesalahan yan telah dilakukan.
- Takbir, yaitu mengagungkan Allah dengan membaca Allahu Akbar Allah Maha Besar. Mengagungkan Allah melalui perilaku adalah mengagungkan nama-Nya dalam segala hal, sehingga tidak menjadikan sesuatu melebihi keagunggan Allah. Tidak mengagungkan yang lain melampaui keagunggan Allah dalam berbagai konsep kehidupan, baik melalui kata-kata maupun dalam tindakan
- Do’a, yaitu meminta kepada Allah apa saja yang diinginkan dengan cara yang baik sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Do’a adalah cara membuktikan kelemahan manusia dihadapan Allah, karena itu berdoa merupakan inti dari beribadah.
b. Akhlak Terhadap Rasulullah Saw
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia dengan akhlak paling agung dan sempurna yang pernah ada. Beliau adalah orang paling dermawan di antara seluruh manusia, bahkan tidak pernah menolak permintaan yang diminta darinya jika mampu memberi. Beliau paling wara’ (menjauhkan diri dari dosa), paling sabar menghadapi cobaan, paling pemalu melebihi gadis perawan di balik tabir, paling fasih dan jelas bicaranya, paling gemar memberi dan berinfak, paling jujur lagi terpercaya (dijuluki Al-Amin sejak sebelum kenabian), paling tawadhu’ tanpa sedikit pun kesombongan, selalu menepati janji, paling penyayang dan lemah lembut, paling pemaaf dan lapang dada, mencintai serta memuliakan fakir miskin, sering duduk bersama mereka tanpa memandang status. Beliau lebih banyak diam daripada berbicara tanpa keperluan, dan ketika tertawa, tawanya hanyalah senyuman yang penuh kelembutan.
Berakhlak kepada Rasullullah perlu kita lakukan atas dasar :
a). Rasullulla Saw.sangat besar jasanya dalam menyelamatkan manusia dari kehancuran. Beliau banyak mengalami penderitaan lahir batin, namun semua itu diterima dengan ridha.
b). Rasulullah sangat berjasa dalam membina akhlak yang mulia. Pembinan ini dilakukan dengan memerikan contoh teladan yang baik kepada umat manusia.
c). Rasulullah berjasa dalam menjelaskan Al-Qur’an kepada manusia sehingga jelas dan mudah dilaksanakan.
d). Rasulullah telah mewariskan hadits yang penuh dengan ajaran yang sangat mulia dalam berbagai bidang kehidupan.
c. Akhlak Terhadap Diri Sendiri
Islam memerintahkan setiap muslim untuk memelihara dirinya secara menyeluruh, baik jasmani maupun rohani. Tubuh fisik wajib dijaga dengan hanya memasukkan makanan dan minuman yang halal lagi thayyib (baik dan berkualitas). Mengonsumsi yang haram atau buruk sama artinya dengan merusak dan menyiksa tubuh sendiri yang merupakan amanah Allah. Demikian pula akal harus dilindungi dari segala bentuk pikiran kotor, pornografi, prasangka buruk, dan informasi yang merusak, agar tetap jernih dan mampu berpikir lurus. Sementara jiwa perlu terus disucikan melalui taubat, dzikir, muhasabah, dan amal saleh, sehingga menjadi jiwa yang bersih dan termasuk golongan orang-orang yang beruntung sebagaimana firman Allah:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Berakhlak Terhadap Diri Sendiri antara lain :
- Setia ( al-Amanah ), yaitu sikap pribadi yang setia, tulus hati dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, baik berupa harta, rahasia, kewajiban, atau kepercayaan lainnya.
- Benar ( as-Shidqatu ), yaitu berlaku benar dan jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan.
- Adil ( al-‘adlu ), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
- Memelihara kesucian ( al-Ifafah ), yaitu menjaga dan memelihara kesucian dan kehormatan diri dari tindakan tercela, fitnah dan perbuatan yang dapat mengotori dirinya.
- Malu ( al-Haya ), yaitu malu terhadap Allah dan diri sendiri dari perbuatan melanggar perintah Allah
- Keberanian ( as-Syajaah ), yaitu sikap mental yang menguasai hawa nafsu dan berbuat semestinya.
- Kekuatan ( al-Quwwah ), yaitu kekuatan fisik, jiwa atau semangat dan pikiran atau kecerdasan.
- Kesabaran ( ash-Shabrul ), yaitu sabar ketika ditimpa musibah dan dalam mengerjakan sesuatu.
- Kasih Sayang ( ar-Rahman ), yaitu sifat mengasihi terhadap diri sendiri, orang lain dan sesama makhluk.
- Hemat ( al-iqtishad ) yaitu tidak boros terhadap harta, hemat tenaga dan waktu.
d. Akhlak Terhadap Keluarga
Akhlak terhadap keluarga meliputi ayah, ibu, anak, dan keturunannya. Kita harus berbuat baik kepada anggota keluarga terutama orang tua. Ibu yang telah mengandung kita dalam keadaan lemah, menyusui dan mengasuh kita memberikan kasih sayang yang tiada tara. Ketika kita lapar, tangan ibu yang menyuapi, ketika kita haus, tangan ibu yang memberi minuman. Ketika kita menangis, tangan ibu yang mengusap air mata.
Akhlak Terhadap Orang Tua antara lain :
- Mencintai mereka melebihi rasa cinta kita terhadap kerabat yang lain.
- Lemah lembut dalam perkataan dan perbuatan
- Merendahkan diri di hadapannya.
- Berdoa kepada mereka dan meminta doa kepada mereka.
- Berbuat baik kepada mereka sepanjang hidupnya.
- Berterima kasih kepada mereka.
e. Akhlak Terhadap Masyarakat
Akhlak terhadap masyarakat antara lain :
- Memuliakan tamu
- Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
- Saling menolong dalam melakukan kebajikan takwa.
- Menganjurkan anggota masyarakat berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat.
- Memberi makan fakir miskin.
- Bermusyawarah dalam segala urusan kepentingan bersama.
- Menunaikan amanah yang telah diberikan oleh masyarakat kepada kita.
- Menepati janji.
f. Akhlak Terhadap Tetangga
Tetangga adalah orang yang paling dekat secara tempat tinggal dan interaksi sosial, sehingga ia memiliki kedudukan istimewa dan menjadi prioritas utama untuk diperlakukan dengan sebaik-baiknya, agar terwujud hubungan yang penuh keharmonisan, saling menghormati, dan mendatangkan keberkahan bagi kedua belah pihak. Akhlak terhadap tetangga merupakan perilaku yang terpuji. Berbuat baik kepada tetangga sangat dianjurkan oleh Rasulullah Saw. sebagaimana sabda Rasulullah :
“Kalau ia ingin meminjam hendaklah engkau pinjamkan, kalau ia minta tolong hendaklah engkau tolong, kalau ia sakit hendaklah engkau rawat, kalau ia ada keperluan hendaklah engkau beri bantuan, kalau ia mendapat kesenangan hendaklah engkau beri ucapan selamat, kalau ia dapat kesusahan hendaklah engkau hibur, kalau ia meninggal hendaklah engkau antarkan jenazahnya. Janganlah engkau bangun rumah lebih tinggi dari rumahnya dan janganlah engkau susahkan ia dengan bau masakanmu kecuali engkau hadiahkan kepadanya, dan kalau tidak engkau beri bawalah masuk kedalam rumahmu dengan sembunyi, dan jangan engkau beri anakmu bawa keluar buah-buahan itu, kecuali nanti anaknya inginkan buahan itu”. ( H.R. Abu Syaikh )
4. Implementasi Pendidikan Akhlak di Sekolah Islam
a. Keteladanan Guru
Guru adalah figur utama dalam pendidikan akhlak. Sikap guru seperti kesabaran, kejujuran, disiplin, dan kasih sayang menjadi contoh langsung bagi peserta didik.
b. Pembiasaan Perilaku Baik
Sekolah biasanya melakukan program religius seperti:
-
- salat berjamaah,
- membaca doa sebelum belajar,
- membaca Al-Qur’an,
- budaya senyum, salam, sapa.
c. Pengintegrasian Nilai Akhlak dalam Mata Pelajaran
Semua mata pelajaran, termasuk IPA atau Matematika, dapat memasukkan nilai akhlak seperti tanggung jawab, ketelitian, dan jujur.
d. Lingkungan Sekolah yang Islami
Lingkungan fisik dan budaya sekolah berperan besar dalam pembentukan akhlak.
e. Kerja sama Orang Tua dan Sekolah
Akhlak harus dibangun secara sinergis antara rumah dan sekolah.
5. Tantangan Pendidikan Akhlak di Era Modern
Beberapa tantangan utama meliputi:
- Pengaruh media sosial dan teknologi
- Krisis keteladanan
- Minimnya pengawasan keluarga
- Pergaulan bebas dan degradasi nilai
6. Strategi Penguatan Akhlak dalam Pendidikan Islam
a. Pendidikan Karakter Terintegrasi
b. Optimalisasi Media Digital Islami
c. Revitalisasi Peran Guru
d. Kolaborasi Keluarga dan Sekolah
e. Penguatan Spiritualitas
Kesimpulan
Pendidikan akhlak merupakan inti dan tujuan utama dari seluruh sistem pendidikan Islam. Akhlak bukan sekadar mata pelajaran tambahan atau pengetahuan teoretis tentang baik-buruk, melainkan proses pembentukan karakter mulia yang menyeluruh, yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta menjiwai setiap aspek kehidupan seorang muslim. Akhlak yang sejati adalah sifat yang telah meresap kuat ke dalam jiwa hingga muncul secara spontan dalam bentuk perbuatan baik tanpa paksaan atau pertimbangan panjang, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan Islam tidak diukur hanya dari kecerdasan intelektual atau penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi terutama dari terwujudnya pribadi yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak karimah.
Nilai-nilai akhlak dalam Islam mencakup hubungan vertikal dengan Allah (iman, taat, ikhlas, tawakal, khusyuk, syukur, sabar, dan lain-lain), penghormatan dan pengamalan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemeliharaan diri sendiri secara jasmani-rohani, serta akhlak yang baik terhadap keluarga, tetangga, dan masyarakat luas. Semua dimensi ini saling berkaitan dan membentuk kepribadian muslim yang utuh, bertanggung jawab, serta menjadi rahmat bagi semesta. Pendidikan akhlak yang efektif memerlukan metode keteladanan, pembiasaan yang konsisten, penguatan kepribadian, dan pengembangan kecerdasan spiritual, yang harus diintegrasikan dalam kurikulum, lingkungan sekolah, serta didukung penuh oleh keluarga.
Di era modern yang penuh tantangan seperti pengaruh negatif media digital, krisis keteladanan, degradasi moral, dan minimnya pengawasan orang tua, pendidikan akhlak menghadapi ujian yang sangat berat. Namun, tantangan tersebut justru menjadi peluang untuk menghidupkan kembali strategi pendidikan yang lebih kreatif dan relevan, seperti pengintegrasian karakter Islami dalam semua mata pelajaran, optimalisasi teknologi untuk dakwah dan pembinaan, revitalisasi peran guru sebagai uswah hasanah, serta memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Hanya dengan komitmen yang sungguh-sungguh dari seluruh elemen pendidikan, generasi muslim yang berkarakter mulia, beradab, dan mampu menghadapi zaman dapat diwujudkan, sehingga terpenuhilah misi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.
Referensi
- A, Khoirul, (2023)“PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA ARAB SISWA” 12, no. 1.
- A, Sahnan, (2018) “Konsep Akhlak Dalam Islam Dan Kontribusinya Terhadap Konseptualisasi Pendidikan Dasar Islam” 2, no. 2.
- Habibah, yarifah, (2015) “Pengertian Akhlak Dan Etika” 1, no. 4.
- Rizal Mz, Syamsul, (2018) “AKHLAK ISLAMI PERSPEKTIF ULAMA SALAF” 07, no. 1.
- Syarkawi, (2016) “PENERAPAN PENDIDIKAN AKHLAK DALAM ISLAM” 5.
- Penulis: M.Fadhlan Adithiyariski
- Editor: AdminPedia
- Sumber: https://etheses.iainkediri.ac.id/4977/3/932136716_bab2.pdf
